Pages

    Minggu, 11 Desember 2011

    A Lil Bit of Muhasabah


    Ayah, Ibu, apa yang harus kulakukan?
    Aku masih belum bisa menoleransi kekalahan
    Ingatkah saat aku kecil, saat aku tak menjadi juara dalam lomba menggambar, tak sekali pun aku tak menangis karenanya?
    Padahal jantungku berdegup begitu kencang karena begitu berharap
    Ayah, ibu, aku hanya tak mau menjadi orang yang angkuh
    Yang menganggap akulah yang ‘selalu’ layak menang
    Aku tak mau menjadi yang merasa sempurna
    Padahal ada begitu banyak hal yang kotor dan rusak dalam diri
    Aku… masih begitu tersiksa dengan keangkuhan ini
    Maka, doakan aku, ayah, ibu, agar keangkuhan ini lekas padam
    Agar keangkuhan ini tak membakar diriku dan orang lain
    Agar aku sibuk bermuhasabah diri, bukan sibuk mencari pembenaran atas kesalahan

    Selasa, 15 November 2011

    To My Sister, ISNAINI

    Assalamualaikum...
    Dik, apakah kau sudah tertidur? Ah, aku yakin kau sudah lelap dalam mimpimu.
    Tiba-tiba aku ingin menulis sesuatu untukmu. Harapanku padamu, sayang...
    Maaf jika aku berlebihan, tapi aku hanya ingin yang terbaik untukmu.

    Dik, sudah 10 tahun kita bersama. Aku ingat saat kau baru lahir. Aku menatapmu di box bayi di rumah bidan tempat Ibu melahirkanmu. Kau begitu kecil, mungil, lucu.. Ah, sekarang kau sudah besar, tinggi, lebih dari setengah tinggi badanku. Tapi ternyata kau bertambah hitam ya... hehehe... Aku senang pertumbuhanmu baik. Aku bahagia kau berkembang normal. Aku gembira kau sehat. Dulu saat kau masih play group di TKIPPA Nurul Haq, entah berapa usiamu, aku lupa, kau pernah terjatuh dari tangga di belakang rumah kita dulu di Pengasih. Kau tahu, dik, saat itu aku cemas bukan kepalang. Saat clavikula-mu patah dan kau harus dibebat perban. Anak seusiamu dengan kejadian itu, benar-benar bukan sesuatu yang menyenangkan. Atau saat kau terkena malaria sampai harus opname di rumah sakit, hingga menyebabkan berat badanmu berkurang drastis, dan bahkan untuk mencari vena-mu kau harus ditusuk berkali-kali... Masih dengan usiamu yang begitu pagi... Ah, kau kuat sekali, dik. Aku bangga...

    Kau sering berkata kau ingin seperti aku. Ingin bersekolah di SD, SMP, dan SMA yang sama. Ah, mungkin dengan universitas yang sama pula... Juga menjajal berbagai lomba menggambar, seperti aku dulu.. Dik, kau tak perlu seperti itu. Tak perlu kau dengan omongan orang tentangku. Kau adalah kau, lakukan apa yang kau inginkan, jadilah apa yang kau mau. Kau punya sesuatu yang aku tak punya, dik. Kau istimewa, sungguh istimewa. Kau dapat menggenggam dunia dengan caramu. Aku yakin! Asal kau rajin dan sungguh-sungguh berusaha, kau pasti  mempu mencapai banyak hal. Bisakah kau sedikit lunak dan mendengarkan nasihat bapak dan ibu, dik? Mereka pun ingin yang terbaik untukmu, untuk hidup dan kehidupanmu. Mungkin akhir-akhir ini mereka sibuk (bahkan sangat sibuk). Tidak seperti dulu, mereka masih bisa bermain-main dengan kita. Pula aku yang pergi ke Solo. Aku tahu kau kesepian, ruang dalam jiwamu merindukan kasih sayang yang lebih dari keluarga, karena itu yang kau butuhkan saat ini, saat kau hampir memasuki masa akil baligh. Dik, tapi kasih sayang Allah tak pernah berkurang jumlahnya untukmu. Ia selalu menjagamu. Maka jangan pernah kau tinggalkan perintahNya ya.. Begitu sayangnya Ia padamu, hingga Ia tak ingin kau jauh dariNya... Maka jadikanlah Allah dan Rasulullah yang nomor satu, dik... Afwan jika aku begitu banyak bicara, padahal aku sendiri masih berlumur dosa dan khilaf. Dik, maukah kau mengingatkanku bila aku salah? Kita saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran, ya...

    Dik, saat SD aku begitu kacau. Terlalu banyak pengaruh acara televisi yang tidak bermanfaat, hingga aku terlalu cepat menjadi "dewasa". Entah dari mana aku dapat istilah pacaran itu, hingga perasaan suka pada teman sekelas, yang malah ditanggapi dan akhirnya menjadi aneh seaneh-anehnya. Juga saat SMP dan SMA. Ah, aku parah ya...
    Dik, kau tak boleh seperti aku. Jangan lakukan kesalahan yang sama denganku. Kau nikmati saja bermain dengan teman-teman. Jangan cepat dewasa. (It's complicated when you're an adult) Masamu adalah masa yang seharusnya kau nikmati dengan gembira, bukan dengan cemburu buta pada temanmu atau memikirkan apakah si A menyukaimu atau tidak. Bukankah rasanya tidak nyaman saat terjadi hal-hal seperti itu? Bukankah itu mengganggumu? Jadilah anak-anak yang riang dan berteman dengan siapa saja. Aku tahu pengaruh teman-teman dan televisi sangat besar hingga membuatmu terjerat dalam proses "dewasa yang terlalu cepat" ini. Aku tahu ini sulit, tapi kau pasti bisa melaluinya. Ingatlah Allah dan Rasulullah adalah yang utama...

    Dik, jadilah kakak yang baik untuk Rizka. Berilah ia contoh yang baik, ya.. Aku hanya dapat menemani kalian saat libur, dengan waktu yang sangat terbatas. Maka sekarang kaulah yang bertanggungjawab besar dalam memberinya contoh. Jangan terlalu sering membuatnya menangis. Sedikit mengalah padanya tidak apa-apa, kan? Rizka masih kecil, sementara kau sudah besar, sedah lebih mengerti.

    Suatu hari nanti, jadilah istri dan ibu yang baik, sholihah, dan menentramkan hati. Ciptakan suasana nyaman dan hangat dalam rumah cintamu bersama suami dan anak-anakmu nanti.

    Kau... jadilah bidadari dunia dan surga...

    Dik Isnaini Nur Fathoni,
    Uhibbuki fillah...


    Adalah wajar jika kadang timbul perasaan iri dengan keadaan superior orang lain
    Ya, kita hanya manusia
    Tapi jika itu memang bukan hak
    Maka apa masih pantas mengharap?

    Lantas hanya tangan ini yang menengadah
    Memohon dalam-dalam
    Agar tiap rupiah yang kau usahakan bernilai ibadah
    Agar tiap keringat payahmu kelak menjadi amal jariah

    Ibu, Bapak,
    Uhibbukuma fillah...

    Kamis, 22 September 2011

    A Little Bit....

    Saat di mana saya merasa harus berhenti karena letih yang amat sangat, saat itulah seharusnya saya harus terus melangkah dan berlari

    Selasa, 06 September 2011

    Ganbarimashu!!!


    Dimulai dari sini
    Karena saya telah berjanji untuk tidak menyerah sampai detik terakhir
    Karena saya telah berjanji untuk berangkat walau dalam keadaan ringan maupun berat
    Karena saya telah berjanji untuk mengambil dari setiap yang memberi kesempatan
    Karena saya telah berjanji untuk maju walau keadaan menyeret mundur
    Karena saya telah berjanji untuk mengikat saat hampir terputus
    Karena…
    Kepulauan itu menunggu saya

    *Ganbarimashu!!!
    Yang masih tersisa, yang harus diperjuangkan

    Minggu, 10 Juli 2011

    Hadiahmu, Hadiahku...

    Hari ini, mengunjungi Muslim Fair sekali lagi
    Masih takjub dengan semua
    Dengan orang-orang yang antusias membeli buku-buku islami dan berbagai kitab
    Dengan mereka yang begitu mencintai ilmuMu
    Dengan akhwat berjilbab panjang, ah... anggun nian
    Dengan mujahidin dan mujahidah yang bergandengan tangan mesra dalam ikatan yang halal
    Dengan adik-adik kecil yang ribut minta dibelikan VCD hafalan doa atau surah Al-Quran
    Dengan keluarga-keluarga muslim yang bersahaja
    Subhanallah.... indahnya Islam ini

    Ah ya, di Muslim Fair hari ini aku membeli hadiah kecil untuk Bapak dan Ibu tercinta, juga untuk kedua adikku
    Bukan barang mewah memang, tapi semoga barokah
    Karena aku memilihnya dengan cinta
    Cinta kepada keluargaku di desa sana
    Ah, aku bahkan sudah merindukan mereka



    Yang ini buat Bapak dan Ibu...












     
     Yang ini buat Isna dan Rizka...













    Well, daripada baju yang nantinya mungkin tidak akan mendapat tempat yang layak dalam almari di rumah kami (karena saking banyaknya baju, atau terlalu sedikitnya lemari?), sepertinya buku dan VCD itu bukan ide yang buruk
    Tinggal menunggu samaru fakultas kedokteran dan remed utul SL (remed? ups..), akan segera kubawa cintaku pulang ke kampung halaman


    "Dan ini masih tak sebanding dengan apa yang telah mereka berikan... Cinta..."

    Adik Kecil di Muslim Fair

    Kemarin sore ba'da maghrib, aku diajak mbak Dian dan mbak Nawira mengunjungi muslim fair di Goro Assalam. (Akhirnya setelah setahun di Solo, aku punya kesempatan masuk di hypermart yang bernuansa muslim ini. hehehe...) Well, akhirnya kami memutuskan untuk melihat-lihat pakaian terlebih dahulu. Mbak Dian membelikan sebuah gamis untuk kakak perempuannya tercinta. Cantik pilihannya. Ungu dengan bunga-bunga coklat. Model dan kainnya pun lumayan bagus. Sebanding lah dengan harganya yang 95 ribu rupiah. Mbak Nawira melihat-lihat baju renang muslimah. Aku? Ah.. survei saja dulu. Toh besok masih ada kesempatan, walau besok merupakan hari terakhir.

    Saat aku sedang melihat-lihat jilbab, memilih yang cukup panjang, tak sengaja kudengar seorang anak berceletuk, "Ayo Abi, beli bukunya kapan?" Aku refleks menoleh. Ah, lihat anak laki-laki kecil itu. Masih sekitar 7 atau 8 tahun usianya. Abinya sedang memilihkan baju koko untuknya. Tapi ia lebih tertarik pada buku-buku islam yang memang diletakkan di dalam gedung hypermart itu, agak jauh dari lokasi display kelompok pakaian.

    Ah.. anak sekecil itu begitu tertarik pada buku. Padahal, biasanya anak seusianya akan begitu gegap gempita bila ummi atau abinya memproklamirkan akan membelikan baju baru untuknya. Subhanallah... Begitu cintanya ia dengan ilmu...

    Untuk membuat seorang anak begitu cinta dengan buku, pastilah orang tua punya peranan besar. Pun lingkungan di sekitarnya, kakak-adik dan saudara-saudaranya. Pasti lingkungan anak kecil itu adalah lingkungan yang gemar membaca. Lalu aku berkaca pada diriku sendiri. Pada keluargaku. Adakah akan kudapati keadaan seperti anak kecil yang kutemui di muslim fair itu? Ah... aku tak yakin. Adikku lebih suka menonton televisi daripada membaca buku. Apalagi setelah bapak membeli modem, jadilah ia facebooker sejati. Bapak dan ibu, mereka sudah terlalu disibukkan dengan pekerjannya masing-masing, yang memang begitu menguras tenaga dan waktu mereka. Sepertinya tak ada waktu untuk membaca buku yang lain. Aku memang suka membaca, tapi belum lama aku begitu keranjingan membaca, tepatnya baru saat masuk semester dua ini.

    Ingin rasanya menjadikan keluargaku begitu mencintai buku. Menjadikan agenda mengunjungi toko buku menjadi sebuah kegiatan rutin. Pasti begitu menyenangkan...

    Well, sepertinya aku ingin membelikan buku untuk bapak dan ibu. Juga CD doa-doa sehari-hari untuk adikku yang terkecil. Untuk adikku yang duduk di bangku SD, mmmm.... entah akan kubelikan apa nanti. Tapi semoga berkah untuk mereka...

    "Karena ingin aku bertemu kalian di taman-taman ilmu... "




    Sabtu, 09 Juli 2011

    Belenggu

    Lagi, Ya Rabb.. Lagi... Aku buat mereka repot karena kerjaku yang tak maksimal. Astaghfirullah...
    Belenggu itu terlalu membelit. Ketakutan yang kuciptakan sendiri itu membuat kerjaku kacau.

    Belenggu itu laksana warfarin
    Tanpa ampun ia buat vitamin K tak berkutik
    Lihatlah, protombin, faktor VII, VIII, dan IX kerdil tak berdaya
    Lalu kaskade koagulasi hanya tinggal nama
    Hingga eritrosit dan plasma terbuang percuma

     Ah... pergilah saja kau belenggu. Jangan temui aku sekarang. Tidak. Jangan temui aku selamanya.

    Jumat, 01 Juli 2011

    Cinta...

    Cinta, aku rindu
    Tak sabar menunggu sepertiga akhir malam nanti
    Menggumam,  meratap, mencari sandaran
    Menggerimis dalam tengadah
    Cinta, aku terjerembab menyusur jalan
    Hujan turun terlalu lebat
    Ah…
    Cinta, aku kelu
    Mungkin sudah saatnya kebenaran ini menemukan jalannya
    dan tentu atas izinMu wahai Cinta, Dzat yang Berkuasa di atas ‘Arsy
     



    Rabu, 29 Juni 2011

    Amanah

    Bismillahirrahmanirrahim…

    Saat tugas kita bertambah satu. Saat amanah kita bertambah satu. Atau sepuluh. Atau seribu. Adakah kalimat-kalimat menyiratkan keluh pernah meluncur dari bibir kita? Pernahkah hati bersungut, berkesah, memberat,  saat amanah itu mampir di kehidupan kita yang singkat ini?

    Ah… amanah. Kata itu seharusnya selalu bisa membuat semangat kita berkobar, membara, menggelora. Bagaimana tidak?

    Allah SWT bertutur dalam kalamNya yang terjaga, “Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha”. Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Begitulah tertulis dalam Surah Al-Baqarah ayat 286.

    Itulah yang Ia firmankan. Ia tahu kita bisa melakukannya, sehingga Ia amanahkan tugas itu. Ah, begitu sayangnya Ia pada kita. Ingin kita belajar. Berkembang. Bertumbuh. Agar kita menjadi laksana pohon yang akarnya menghunjam kuat dalam tanah, batangnya kokoh tak tergemingkan badai, daunnya hijau lebat merimbun, dan bebuah manis tak kenal musim. Agar kita menjadi kalifah utusanNya yang bisa memakmurkan bumiNya, memberi kemanfaatan bagi semesta. Ah, begitulah cintaNya mengalun. Begitu syahdu. Begitu merdu.

    Ia ingin kita tunaikan amanah itu. Dengan sebaik-baiknya. Dengan secermat-cermatnya. Dan saat kita temui kendala demi kendala, dengarlah kalimat cintaNya dalam surah Al-Insyirah ayat 5 dan 6, “Fainnama’al ‘usriyusro, innama’al 'usriyusro”. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Ia yakinkan kita dua kali. Agar kita yakin. Agar kita percaya. Dengan izinNya, dengan kuasaNya, kerikil-kerikil tajam itu akan menyingkir. Pasti.

    Saat duri merantas kaki, saat kerikil mencacah telapak, saat kita payah, saat kita lelah, saat keringat dan darah tumpah. Saat semua seakan tak tertahan dan kian membuncah. Ada satu kalimat yang begitu menggugah…  “Ni’mal maulaa wa ni’mannashiir”. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Maka Dialah tempat kita mengadu, mengeluh, dalam sujud-sujud panjang kita, dalam hening sepertiga malam kita.

    Lalu simak lanjutan ayatNya, masih dalam Al-Baqarah: 286. “Dia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya.” Itulah janjiNya saat kita tunaikan amanah dengan sempurna. Pahala. Hijaunya surga. Minumannya dari susu dan madu, mengalir di bawahnya sungai-sungai, bujang hilir mudik melayani, ada pula bidadari-bidadari bermata jeli. “Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah darinya”.

    Tapi berhati-hatilah…

    ”dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya.”  Saat amanah itu kita lalaikan. Dengan sengaja terutama. Atau tak kita berikan ikhtiyar terbaik kita dalam amanah itu. Padahal kita mampu. Lihatlah, siksaNya menanti. Panasnya neraka. Minumannya dari nanah dan besi mendidih, ada pula malaikat zabaniyah yang kejam bukan kepalang. “Bagi mereka ada waktu tertentu untuk mendapat siksa yang mereka tidak akan menemukan tempat berlindung dariNya

    Maka hanya doa yang terlantun dalam munajat, memohon belas kasihNya. “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya, beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmati kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami dari orang kafir.”

    Ah…begitulah amanah. Sebentuk cinta indah dariNya. 

    #Dedicated to Bedah Buku Muslim Ilmiah SKI FK UNS 2011, next September, insyaAllah. Semoga Allah mudahkan langkah kita dalam menegakkan dienNya.



    Kamis, 09 Juni 2011

    Tentang 'Pencarian' yang Telah Berlalu

    "The most severe regretness is a reluctant to try. Whereas regretness that comes from refusing isn't that pain."
    Hari ini aku mendapat tugas dari mbak sekbid tersayang untuk menempel pamphlet launching jikodays. Jadilah aku berkeliling gedung F, E, dan D. Mencari-cari papan pengumuman yang sudah biasa menjadi korban pertempelan pamphlet berbagai macam acara kampus. Dan dalam masa mencari-cari itu, kutemukan papan informasi lab biomedik. Ada secarik kertas tertempel di situ. Pengumuman mahasiswa angkatan 2010 yang berhak mengikuti tes wawancara dalam rangka ‘pencarian’ asisten lab biomedik. Ada sekitar… hmmmm… 15-20 mahasiswa.
    Pikiranku melayang, mengangarungi detik demi detik yang berlalu seminggu yang lalu. Saat pendaftaran calon asisten biomedik masih dibuka. Lebar. Sangat lebar. Karena bahkan aku sedang ada di rumah, tak mengerjakan tugas kuliah apapun. Pikirku, saat di Solo akan kukerjakan esai itu, salah satu syarat administrasi untuk mendaftar dalam ‘pencarian’ langka yang digawangi oleh dokter yang sangat aku kagumi. Tapi ternyata aku tak bisa berkelit dari OSCE, dan satu lagi 'amanah' yang tak bisa ditangguhkan.
    Ah, cukup berandai-andai. Semuanya sudah berlalu. Waktu tak kan mungkin terulang, kan? Atau yang lebih ekstrim lagi, dr. *** akan membuka pendaftaran asisten lab biomedik gelombang kedua. Ah… mimpi di siang bolong pula kau ini, Nov???
    Segala yang aku impikan tentang lab itu hilang. Jas ungu. Mikropipet. PCR room. Kapan kita bisa bertemu lagi? Atau kata-kata ala lab yang paling aku sukai: ‘infeksius’. Atau kesempatan meneliti di lab biomedik, menjalankan timeline penelitian yang bertahun-tahun lalu telah disusun. Kesempatan belajar lebih banyak, kesempatan publikasi di kancah internasional…
    Semua hilang karena kemalasan, menganggap remeh sang waktu…
    Ah, satu lagi kesalahan besar telah kulakukan.
    Saat-saat seperti ini… sama seperti saat aku tak terpilih menjadi wakil SMA dalam olimpiade kimia. Atau saat aku tak terpilih menjadi pengurus OSIS SMA. Atau saau aku tak dikhitbah menjadi anggota tonti. Atau saat aku tak ikut menjadi anggota BEM fakultas. Tapi saat itu sedikit berbeda. Aku telah mencoba. Ya, setidaknya aku telah mencoba. Dan dalam penilaiannya, aku dinilai kurang. Just it. Tapi untuk kali ini, aku belum mencoba. And it’s a big deal.
    Tapi tentu tak ada guna menyesali ini semua, kan? Tak kan ada yang berubah jika aku hanya menyesali diri, berdiam dan menjauh dari realita. Pasti akan ada jalan terbuka di sana. Seperti dulu. Seperti biasanya. Ada skenario yang telah Allah rangkaikan. Yang perlu aku lakukan adalah mencari celah lain. Berusaha mencari berkas-berkas cahaya dari celah itu, membuka celah itu lebih lebar lagi, hingga nampak kembali apa yang aku cita-citakan. Ya, seperti dulu. Seperti biasanya. Ada skenario yang telah Allah rangkaikan.
    *Tapi entah kenapa aku masih benar-benar berharap ada gelombang II. Karena ini kesempatan sekali semumur hidup.


    Minggu, 05 Juni 2011

    Remnant

    Cepat!!
    Aku tak kan menunggumu
    Salah siapa memilihku?
    Matahari sudah sepenggalah
    Lantas
    Apa masih ingin kau toleh jalan itu?
    Aku tak punya waktu lagi
    Dengan kebimbanganmu
    Terutama
    Dengan aroganmu
    Masihkah ingin kau koarkan pada ilalang
    Betapa kuasa dirimu dulu
    Tapi lihatlah
    Kau kini tertatih
    Bahkan hanya sekadar bangun dari ranjang empukmu
    kau tertatih

    Aku:
    maka, tunjuki aku
    aku lupa jalan kembali

    #Dibuat pada 24 April 2011, 21:02 WIB

    Kamis, 19 Mei 2011

    Mengapa Dokter Menikah dengan Sesama Dokter?

    Belum lama ini, saya menghadiri acara pernikahan kakak kelas saya. Kedua mempelainya adalah kakak kelas saya. Ya, mereka berdua adalah dokter. Beberapa hari sebelumnya, hal yang sama juga terjadi pada kakak kelas saya yang lain. Dokter menikah dengan dokter. Di angkatan saya, ada dua orang teman yang sudah menikah. Keduanya juga menikah dengan pasangan dari latar belakang pendidikan yang sama. Lagi-lagi, dokter menikah dengan dokter. Fenomena dokter menikah dengan dokter merupakan hal yang sering saya jumpai. Bahkan ini juga terjadi dalam keluarga saya. Ayah dan Ibu saya adalah dokter. Ternyata, di belahan dunia yang lain, fenomena ini juga sering ditemukan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari San Francisco and Cleveland Veterans Affairs Medical Centers, University of California San Francisco, University Hospitals of Cleveland, dan Case Western Reserve University, dikatakan bahwa saat ini 50% dokter perempuan di Amerika Serikat menikah dengan dokter. Dan diperkirakan dalam waktu beberapa tahun kedepan, setengah dari dokter di Amerika akan menikah dengan sesama dokter.

    Saya kemudian berfikir, bertanya pada beberapa orang, dan mencari referensi.. ada celetukan, kalau fenomena ini terjadi karena dokter kurang bergaul dengan lingkungan diluar. Karena kesibukan pekerjaan juga studi kedokteran yang lama (4 tahun sarjana kedokteran plus 2 tahun kepaniteraan,magang,internship..belum lagi kalau melanjutkan ke pendidikan spesialis tambah 3-5 tahun lagi) jadi dokter lebih sering bertemu dengan orang yang ada di dunianya saja. Dengan kata lain: kuper, kurung batokeun. Syukurlah redaksi sumpah dokter telah diamandemen. Jika sumpah dokter yang lama masih berlaku, akan banyak sekali dokter yang melanggarnya ^^ “akan memperlakukan teman sejawat seperti saudara kandung”

    Salah satu penyebab maraknya fenomena ini adalah karena semakin banyaknya perempuan yang menempuh studi sebagai dokter. Di angkatan saya saja, perbandingan mahasiswa dengan mahasiswi adalah satu banding tiga. Seperti itu juga terjadi pada angkatan-angkatan di bawah saya. Jika dilihat lebih dekat, lebih banyak dokter perempuan yang menikah dengan dokter laki-laki jika dibandingkan dengan dokter laki-laki yang menikah dengan dokter perempuan. Hal ini karena, banyak dokter laki-laki yang cenderung lebih memilih istri –bukan dokter- yang bisa mengurus keluarga dan anak-anaknya di rumah, sedangkan dirinya yang jungkir balik cari nafkah di luar rumah. Berpatokan dari pendapat ini, maka dengan meningkatnya jumlah dokter perempuan, maka akan semakin banyak pasangan dokter yang muncul.

    Menikah dengan sesama dokter, membuat pasangan lebih mengerti dengan berbagai hal yang dihadapi oleh seorang dokter. Tingginya mobilitas di luar rumah membuat intensitas pertemuan yang jarang dengan keluarga. Terlebih dokter-dokter yang harus siap siaga selama 24 jam. Atau bagi dokter yang sedang menempuh studi residensi, lengkap dengan tingkat stress yang tinggi setiap harinya. Untuk keadaan-keadaan seperti ini, dokter akan lebih nyaman jika pasangannya juga dapat mengerti hal-hal yang dialaminya. Yang akan didapatkan jika pasangannya juga seorang dokter, sehingga bisa lebih faham dan mengerti tentang konsekuensi dari profesi pasangannya itu. Dengan memiliki pasangan yang berprofesi sama, dokter juga akan berbicara dalam bahasa yang sama. Mungkin kalau bisa digambarkan dalam bentuk dialog unik kurang lebih seperti ini.


    Dokter: “Sayang..aku lelah sekali. Tadi di RS, ada pasien Stephen Johnson Syndrome..”
    Istri-dokter-yang-bukan-dokter:“Wah..artis dari mana tuh mas?”
    Dokter: GUBRAK..”Ggrrr…”


    Nah, sederhananya, komunikasi setidaknya akan lebih mudah kalau dokter menikah dengan sesamanya. Dengan lancarnya komunikasi, mereka bisa saling berbagi tentang permasalahan pekerjaan juga kehidupan keluarga sehingga bisa saling menguatkan. Hal ini penting untuk membina pernikahan sesama dokter, kata Wayne M Sotile, psikiater yang sering menangani permasalah pernikahan dokter di Amerika Serikat (Saking booming-nya sampe ada expertnya segala..) Selain itu, menikah dengan sesama dokter juga bisa meningkatkan penghasilan keluarga anda. Jadi suami dan istri bisa sama-sama saling bantu.

    Hasil penelitian yang dilakukan pada 1.200 orang dokter di Ohio University menunjukkan bahwa dokter yang menikah dengan sesama dokter merasa lebih bahagia dalam kehidupan pernikahannya jika dibandingkan dengan dokter yang menikah dengan orang yang bukan dokter. Disebabkan karena adanya kepuasan dalam berbagi permasalahan yang sama dan penghasilan yang lebih tinggi. Disisi lain, dokter yang menikah dengan dokter merasa lebih sedikit waktu yang dihabiskan bersama dengan anak dan merasa kurang terpuaskan dalam menempuh jenjang karier.

    Ternyata pernikahan dengan sesama dokter juga bisa memberikan efek yang kurang baik. Bayangkan jika suami dan istri terlalu sibuk di luar rumah dengan pasien-pasiennya sehingga anak-anaknya terbengkalai. Kesibukan orangtua juga dapat mengurangi intesitas bertemu keluarga. Bahkan mungkin tak sempat lagi untuk membimbing anak-anaknya.. Mau jadi apa nanti anaknya? –Paling jadi dokter juga..:D- Dari segi karier, jika pasangan dokter berbagi tugas, maka harus ada yang siap –biasanya istri- untuk membagi waktu lebih banyak untuk keluarganya daripada harus mengembangkan karier dokternya. Hal ini adalah konsekuensi yang bisa terjadi dan harus disikapi dengan sebaik-baiknya oleh pasangan dokter.


    Selasa, 10 Mei 2011

    Will It Be?

    Hari ini kelompok A8 melaksanakan field lab di puskesmas Banyudono, Boyolali. Dan ternyata Bapak Kapuskes adalah suami dari salah satu dosenku. Tak perlu lah kusebut nama beliau-beliau itu. Tapi yang pasti, mereka adalah orang yang sangat ramah. Sang ibu dosen pernah memberi materi injeksi saat skills lab injeksi dan pungsi vena, dan beliau membawakannya dengan senyum yang tak putus-putus. Begitu ramah dan tenang. Pun Bapak Kapuskes, mengantarkan materi pengendalian wabah DBD dengan kata-kata renyah. Begitu ramah dan tenang. Begitu serasi mereka. Pasangan dokter yang serasi...

    Dan hal ini membuatku bermimpi...

    Ah, andai suatu hari nanti aku memiliki suami yang juga seorang dokter... Dengan iman yang jauh lebih kuat daripada diriku ini yang begitu akrab dengan fluktuasi iman yang sering terjun bebas. Dengan ketenangan jiwa yang lebih besar, agar ia dapat membimbingku sehingga tak berat kulepaskan hak duniaku untuk akhiratku. Agar ada tempatku bertanya tentang pasien-pasienku nanti yang datang dengan jutaan variasi masalah. Agar ringan bebanku nanti jika menjadi dokter, karena dunia yang kami geluti sama.

    Tapi untuk itu, tentu aku harus mematutkan diri. "Bagaimana bisa mendapat suami sekualitas Ali jika hati belum selembut Fatimah"?

    
    

    Sajak Bulan

    Kata siapa bulan tak bersinar?
    Katakan
    Aku akan tunjukkan
    Sinarnya yang lembut menghangatkan
    Maka akan kau rasa
    Kehangatan yang sama
    Dalam diamnya
    Menjaga dalam lelap dunia
    Rasakan…

    Kata siapa bulan tak bersinar?
    Katakan
    Siang pun sinarnya tetap menghangatkan
    Apa kau tak rasa?
    Dia terlalu bijaksana
    Membagi perannya dengan sang surya
    Dia bersembunyi
    Tapi tetap menjaga dalam sibuk dunia
    Yang  mengacuhkannya
    Rasakan…

    Kata siapa bulan tak bersinar???





    Hasil ke-GJ-an malam ujian imunologi……………..  \^.^/  …………………….Mari belajar lagi!!!!
    Ngoresan, 5 Mei 2011, 22.13 WIB