Pages

    Minggu, 10 Juli 2011

    Hadiahmu, Hadiahku...

    Hari ini, mengunjungi Muslim Fair sekali lagi
    Masih takjub dengan semua
    Dengan orang-orang yang antusias membeli buku-buku islami dan berbagai kitab
    Dengan mereka yang begitu mencintai ilmuMu
    Dengan akhwat berjilbab panjang, ah... anggun nian
    Dengan mujahidin dan mujahidah yang bergandengan tangan mesra dalam ikatan yang halal
    Dengan adik-adik kecil yang ribut minta dibelikan VCD hafalan doa atau surah Al-Quran
    Dengan keluarga-keluarga muslim yang bersahaja
    Subhanallah.... indahnya Islam ini

    Ah ya, di Muslim Fair hari ini aku membeli hadiah kecil untuk Bapak dan Ibu tercinta, juga untuk kedua adikku
    Bukan barang mewah memang, tapi semoga barokah
    Karena aku memilihnya dengan cinta
    Cinta kepada keluargaku di desa sana
    Ah, aku bahkan sudah merindukan mereka



    Yang ini buat Bapak dan Ibu...












     
     Yang ini buat Isna dan Rizka...













    Well, daripada baju yang nantinya mungkin tidak akan mendapat tempat yang layak dalam almari di rumah kami (karena saking banyaknya baju, atau terlalu sedikitnya lemari?), sepertinya buku dan VCD itu bukan ide yang buruk
    Tinggal menunggu samaru fakultas kedokteran dan remed utul SL (remed? ups..), akan segera kubawa cintaku pulang ke kampung halaman


    "Dan ini masih tak sebanding dengan apa yang telah mereka berikan... Cinta..."

    Adik Kecil di Muslim Fair

    Kemarin sore ba'da maghrib, aku diajak mbak Dian dan mbak Nawira mengunjungi muslim fair di Goro Assalam. (Akhirnya setelah setahun di Solo, aku punya kesempatan masuk di hypermart yang bernuansa muslim ini. hehehe...) Well, akhirnya kami memutuskan untuk melihat-lihat pakaian terlebih dahulu. Mbak Dian membelikan sebuah gamis untuk kakak perempuannya tercinta. Cantik pilihannya. Ungu dengan bunga-bunga coklat. Model dan kainnya pun lumayan bagus. Sebanding lah dengan harganya yang 95 ribu rupiah. Mbak Nawira melihat-lihat baju renang muslimah. Aku? Ah.. survei saja dulu. Toh besok masih ada kesempatan, walau besok merupakan hari terakhir.

    Saat aku sedang melihat-lihat jilbab, memilih yang cukup panjang, tak sengaja kudengar seorang anak berceletuk, "Ayo Abi, beli bukunya kapan?" Aku refleks menoleh. Ah, lihat anak laki-laki kecil itu. Masih sekitar 7 atau 8 tahun usianya. Abinya sedang memilihkan baju koko untuknya. Tapi ia lebih tertarik pada buku-buku islam yang memang diletakkan di dalam gedung hypermart itu, agak jauh dari lokasi display kelompok pakaian.

    Ah.. anak sekecil itu begitu tertarik pada buku. Padahal, biasanya anak seusianya akan begitu gegap gempita bila ummi atau abinya memproklamirkan akan membelikan baju baru untuknya. Subhanallah... Begitu cintanya ia dengan ilmu...

    Untuk membuat seorang anak begitu cinta dengan buku, pastilah orang tua punya peranan besar. Pun lingkungan di sekitarnya, kakak-adik dan saudara-saudaranya. Pasti lingkungan anak kecil itu adalah lingkungan yang gemar membaca. Lalu aku berkaca pada diriku sendiri. Pada keluargaku. Adakah akan kudapati keadaan seperti anak kecil yang kutemui di muslim fair itu? Ah... aku tak yakin. Adikku lebih suka menonton televisi daripada membaca buku. Apalagi setelah bapak membeli modem, jadilah ia facebooker sejati. Bapak dan ibu, mereka sudah terlalu disibukkan dengan pekerjannya masing-masing, yang memang begitu menguras tenaga dan waktu mereka. Sepertinya tak ada waktu untuk membaca buku yang lain. Aku memang suka membaca, tapi belum lama aku begitu keranjingan membaca, tepatnya baru saat masuk semester dua ini.

    Ingin rasanya menjadikan keluargaku begitu mencintai buku. Menjadikan agenda mengunjungi toko buku menjadi sebuah kegiatan rutin. Pasti begitu menyenangkan...

    Well, sepertinya aku ingin membelikan buku untuk bapak dan ibu. Juga CD doa-doa sehari-hari untuk adikku yang terkecil. Untuk adikku yang duduk di bangku SD, mmmm.... entah akan kubelikan apa nanti. Tapi semoga berkah untuk mereka...

    "Karena ingin aku bertemu kalian di taman-taman ilmu... "




    Sabtu, 09 Juli 2011

    Belenggu

    Lagi, Ya Rabb.. Lagi... Aku buat mereka repot karena kerjaku yang tak maksimal. Astaghfirullah...
    Belenggu itu terlalu membelit. Ketakutan yang kuciptakan sendiri itu membuat kerjaku kacau.

    Belenggu itu laksana warfarin
    Tanpa ampun ia buat vitamin K tak berkutik
    Lihatlah, protombin, faktor VII, VIII, dan IX kerdil tak berdaya
    Lalu kaskade koagulasi hanya tinggal nama
    Hingga eritrosit dan plasma terbuang percuma

     Ah... pergilah saja kau belenggu. Jangan temui aku sekarang. Tidak. Jangan temui aku selamanya.

    Jumat, 01 Juli 2011

    Cinta...

    Cinta, aku rindu
    Tak sabar menunggu sepertiga akhir malam nanti
    Menggumam,  meratap, mencari sandaran
    Menggerimis dalam tengadah
    Cinta, aku terjerembab menyusur jalan
    Hujan turun terlalu lebat
    Ah…
    Cinta, aku kelu
    Mungkin sudah saatnya kebenaran ini menemukan jalannya
    dan tentu atas izinMu wahai Cinta, Dzat yang Berkuasa di atas ‘Arsy