Pages

    Kamis, 19 Mei 2011

    Mengapa Dokter Menikah dengan Sesama Dokter?

    Belum lama ini, saya menghadiri acara pernikahan kakak kelas saya. Kedua mempelainya adalah kakak kelas saya. Ya, mereka berdua adalah dokter. Beberapa hari sebelumnya, hal yang sama juga terjadi pada kakak kelas saya yang lain. Dokter menikah dengan dokter. Di angkatan saya, ada dua orang teman yang sudah menikah. Keduanya juga menikah dengan pasangan dari latar belakang pendidikan yang sama. Lagi-lagi, dokter menikah dengan dokter. Fenomena dokter menikah dengan dokter merupakan hal yang sering saya jumpai. Bahkan ini juga terjadi dalam keluarga saya. Ayah dan Ibu saya adalah dokter. Ternyata, di belahan dunia yang lain, fenomena ini juga sering ditemukan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari San Francisco and Cleveland Veterans Affairs Medical Centers, University of California San Francisco, University Hospitals of Cleveland, dan Case Western Reserve University, dikatakan bahwa saat ini 50% dokter perempuan di Amerika Serikat menikah dengan dokter. Dan diperkirakan dalam waktu beberapa tahun kedepan, setengah dari dokter di Amerika akan menikah dengan sesama dokter.

    Saya kemudian berfikir, bertanya pada beberapa orang, dan mencari referensi.. ada celetukan, kalau fenomena ini terjadi karena dokter kurang bergaul dengan lingkungan diluar. Karena kesibukan pekerjaan juga studi kedokteran yang lama (4 tahun sarjana kedokteran plus 2 tahun kepaniteraan,magang,internship..belum lagi kalau melanjutkan ke pendidikan spesialis tambah 3-5 tahun lagi) jadi dokter lebih sering bertemu dengan orang yang ada di dunianya saja. Dengan kata lain: kuper, kurung batokeun. Syukurlah redaksi sumpah dokter telah diamandemen. Jika sumpah dokter yang lama masih berlaku, akan banyak sekali dokter yang melanggarnya ^^ “akan memperlakukan teman sejawat seperti saudara kandung”

    Salah satu penyebab maraknya fenomena ini adalah karena semakin banyaknya perempuan yang menempuh studi sebagai dokter. Di angkatan saya saja, perbandingan mahasiswa dengan mahasiswi adalah satu banding tiga. Seperti itu juga terjadi pada angkatan-angkatan di bawah saya. Jika dilihat lebih dekat, lebih banyak dokter perempuan yang menikah dengan dokter laki-laki jika dibandingkan dengan dokter laki-laki yang menikah dengan dokter perempuan. Hal ini karena, banyak dokter laki-laki yang cenderung lebih memilih istri –bukan dokter- yang bisa mengurus keluarga dan anak-anaknya di rumah, sedangkan dirinya yang jungkir balik cari nafkah di luar rumah. Berpatokan dari pendapat ini, maka dengan meningkatnya jumlah dokter perempuan, maka akan semakin banyak pasangan dokter yang muncul.

    Menikah dengan sesama dokter, membuat pasangan lebih mengerti dengan berbagai hal yang dihadapi oleh seorang dokter. Tingginya mobilitas di luar rumah membuat intensitas pertemuan yang jarang dengan keluarga. Terlebih dokter-dokter yang harus siap siaga selama 24 jam. Atau bagi dokter yang sedang menempuh studi residensi, lengkap dengan tingkat stress yang tinggi setiap harinya. Untuk keadaan-keadaan seperti ini, dokter akan lebih nyaman jika pasangannya juga dapat mengerti hal-hal yang dialaminya. Yang akan didapatkan jika pasangannya juga seorang dokter, sehingga bisa lebih faham dan mengerti tentang konsekuensi dari profesi pasangannya itu. Dengan memiliki pasangan yang berprofesi sama, dokter juga akan berbicara dalam bahasa yang sama. Mungkin kalau bisa digambarkan dalam bentuk dialog unik kurang lebih seperti ini.


    Dokter: “Sayang..aku lelah sekali. Tadi di RS, ada pasien Stephen Johnson Syndrome..”
    Istri-dokter-yang-bukan-dokter:“Wah..artis dari mana tuh mas?”
    Dokter: GUBRAK..”Ggrrr…”


    Nah, sederhananya, komunikasi setidaknya akan lebih mudah kalau dokter menikah dengan sesamanya. Dengan lancarnya komunikasi, mereka bisa saling berbagi tentang permasalahan pekerjaan juga kehidupan keluarga sehingga bisa saling menguatkan. Hal ini penting untuk membina pernikahan sesama dokter, kata Wayne M Sotile, psikiater yang sering menangani permasalah pernikahan dokter di Amerika Serikat (Saking booming-nya sampe ada expertnya segala..) Selain itu, menikah dengan sesama dokter juga bisa meningkatkan penghasilan keluarga anda. Jadi suami dan istri bisa sama-sama saling bantu.

    Hasil penelitian yang dilakukan pada 1.200 orang dokter di Ohio University menunjukkan bahwa dokter yang menikah dengan sesama dokter merasa lebih bahagia dalam kehidupan pernikahannya jika dibandingkan dengan dokter yang menikah dengan orang yang bukan dokter. Disebabkan karena adanya kepuasan dalam berbagi permasalahan yang sama dan penghasilan yang lebih tinggi. Disisi lain, dokter yang menikah dengan dokter merasa lebih sedikit waktu yang dihabiskan bersama dengan anak dan merasa kurang terpuaskan dalam menempuh jenjang karier.

    Ternyata pernikahan dengan sesama dokter juga bisa memberikan efek yang kurang baik. Bayangkan jika suami dan istri terlalu sibuk di luar rumah dengan pasien-pasiennya sehingga anak-anaknya terbengkalai. Kesibukan orangtua juga dapat mengurangi intesitas bertemu keluarga. Bahkan mungkin tak sempat lagi untuk membimbing anak-anaknya.. Mau jadi apa nanti anaknya? –Paling jadi dokter juga..:D- Dari segi karier, jika pasangan dokter berbagi tugas, maka harus ada yang siap –biasanya istri- untuk membagi waktu lebih banyak untuk keluarganya daripada harus mengembangkan karier dokternya. Hal ini adalah konsekuensi yang bisa terjadi dan harus disikapi dengan sebaik-baiknya oleh pasangan dokter.


    Selasa, 10 Mei 2011

    Will It Be?

    Hari ini kelompok A8 melaksanakan field lab di puskesmas Banyudono, Boyolali. Dan ternyata Bapak Kapuskes adalah suami dari salah satu dosenku. Tak perlu lah kusebut nama beliau-beliau itu. Tapi yang pasti, mereka adalah orang yang sangat ramah. Sang ibu dosen pernah memberi materi injeksi saat skills lab injeksi dan pungsi vena, dan beliau membawakannya dengan senyum yang tak putus-putus. Begitu ramah dan tenang. Pun Bapak Kapuskes, mengantarkan materi pengendalian wabah DBD dengan kata-kata renyah. Begitu ramah dan tenang. Begitu serasi mereka. Pasangan dokter yang serasi...

    Dan hal ini membuatku bermimpi...

    Ah, andai suatu hari nanti aku memiliki suami yang juga seorang dokter... Dengan iman yang jauh lebih kuat daripada diriku ini yang begitu akrab dengan fluktuasi iman yang sering terjun bebas. Dengan ketenangan jiwa yang lebih besar, agar ia dapat membimbingku sehingga tak berat kulepaskan hak duniaku untuk akhiratku. Agar ada tempatku bertanya tentang pasien-pasienku nanti yang datang dengan jutaan variasi masalah. Agar ringan bebanku nanti jika menjadi dokter, karena dunia yang kami geluti sama.

    Tapi untuk itu, tentu aku harus mematutkan diri. "Bagaimana bisa mendapat suami sekualitas Ali jika hati belum selembut Fatimah"?

    
    

    Sajak Bulan

    Kata siapa bulan tak bersinar?
    Katakan
    Aku akan tunjukkan
    Sinarnya yang lembut menghangatkan
    Maka akan kau rasa
    Kehangatan yang sama
    Dalam diamnya
    Menjaga dalam lelap dunia
    Rasakan…

    Kata siapa bulan tak bersinar?
    Katakan
    Siang pun sinarnya tetap menghangatkan
    Apa kau tak rasa?
    Dia terlalu bijaksana
    Membagi perannya dengan sang surya
    Dia bersembunyi
    Tapi tetap menjaga dalam sibuk dunia
    Yang  mengacuhkannya
    Rasakan…

    Kata siapa bulan tak bersinar???





    Hasil ke-GJ-an malam ujian imunologi……………..  \^.^/  …………………….Mari belajar lagi!!!!
    Ngoresan, 5 Mei 2011, 22.13 WIB

    Catatan Kecil di Akhir Blok Tujuh

    Assalamualaikum…
    Calon pasienku sayang, apa kabarmu hari ini? Semoga Allah senantiasa menjagamu dalam setiap hela nafasmu, dalam setiap detak jantungmu.
    Alhamdulillah, Jumat  kemarin telah rampung blok tujuh dengan tema imunologi. Telah kulaksanakan ujian blok dengan 75 soal yang sangat menguras pemikiran. Tapi pasienku sayang, jujur kukatakan, pada blok ini tak kukerahkan segala semangatku dalam menimba ilmu.
    Tahukah kau pasienku sayang, slide-slide dari dosen tak kupelajari dengan baik. Aku hanya membacanya saat akan ujian blok. Astaghfirullah… maafkan dosaku, pasienku sayang. Ini memang sangat buruk. Begitu buruk. Rasa malasku ini begitu berkuasa hingga ke setiap molekul DNA dalam setiap sel-sel tubuhku, hingga tak kuasa kuhempas habis dari dalam diriku. Dan baru kusadari hal itu pada akhir blok imunologi. Saat waktu begitu sempit untuk mengulang semua materi di blok ini.
    Dan tutorial pada blok imunologi, hanya kucari sumber-sumber dari laporan yang telah disusun kakak angkatan. Astaghfirullah… maafkan dosaku lagi, pasienku sayang. Seharusnya kugunakan diskusi tutorial untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Seharusnya kucari referensi terbaru, siapa tahu suatu saat nanti saat aku bertemu denganmu, bisa kugunakan metode terbaru untuk membantumu mengurangi rasa sakitmu.
    Pasienku sayang, entah kenapa pada blok ini aku mulai merasa membolos kuliah adalah hal yang ringan, bukanlah hal yang perlu kukhawatirkan, karena aku berpikir, toh dosen hanya akan membaca slide yang ditampilkan. Tapi kenyatannya, seperti yang telah kukatakan padamu tadi, pasienku sayang, tak kubaca slide-slide dari dosen, kecuali sesaat sebelum ujian blok. Aku berpendapat bahwa ada hal lain yang lebih penting yang harus aku kerjakan selain mendengarkan pembacaan materi slide oleh dosen sambil mengantuk karena tak paham apa yang beliau bicarakan. Sesungguhnya hal ini terjadi karena aku tak mempelajari dulu materi kuliah. Aku terlalu mengandalkan prinsip “apa yang bisa aku terima dari orang lain”, bukan pada “apa yang bisa aku dapat sendiri”. Astagfirullah… Dan bahkan kini aku tak tahu apakah aku masih pantas dimaafkan olehmu, pasienku sayang. Aku takut kelalaianku saat ini bisa berakibat pada kecerobohanku dalam membantumu suatu saat nanti.
    Pasienku sayang, berbicara tentang kecerobohan, entah kenapa aku begitu lekat dengan sifat ini. Maafkan aku, pasienku sayang… Bahkan kuhilangkan modemku yang berharga ratusan ribu. Itu berarti telah kuhilangkan pula rupiah orang tuaku yang mereka cari dengan setiap tetes peluh dan lelah mereka. Aku tak pandai menghargai jerih payah mereka, pasienku sayang. Aku berdosa. Begitu berdosa. Astagfirullah…
    Dan karena hilangnya modem itu, aku tak bisa membantu kakak angkatanku dalam membuat karya tulis yang akan diikutkan dalam perlombaan tingkat fakultas, hingga akhirnya karya tulis itu tidak dikirimkan. Astagfirullah… khilafku muncul lagi. Dan lebih banyak orang yang dirugikan karena khilafku ini. Dan aku begitu kecewa, pasienku sayang. Satu lagi lomba karya tulis terlewatkan… Dan mimpi “itu” melayang..
    Pasienku sayang, masih lebih banyak lagi khilaf dan dosa yang kulakukan pada blok imunologi, selama empat minggu ini. Tak terkira imbasnya, pasienku sayang. Begitu dahsyat. Begitu banyak amanah yang terbengkalai karenanya. Pasienku sayang, meski sekarang badanku begitu sakit karena musibah kecelakaan di tangga kos dan jalan raya kemarin, aku berjanji akan lebih bersemangat pada blok infeksi dan penyakit tropis yang akan dimulai esok senin. Blok ini harus kepersiapkan dengan lebih baik. Aku harus mempelajari materi kuliah sebelum dipresentasikan dosen, mengulang materi kuliah setiap hari, membuat laporan praktikum dengan kualitas yang lebih baik. Juga, aku harus mempersiapkan lomba IMSF 3rd dengan sebaik-baiknya untuk menggapai mimpiku. Go to Jember!!! \^_^/
    Pasienku sayang, tolong doakan aku, agar dapat kupersiapkan bekalku untuk membantumu dengan sebai-baiknya. Sungguh, aku tak ingin menzalimimu dengan kekhilafan dan dosa-dosaku.
    Tak sabar rasanya untuk segera bertemu denganmu, pasienku sayang…
    *Ditulis di tengah nyeri-nyeri tubuh yang melemahkan semangat. Tapi untukmu pasienku sayang, akan kukobarkan semangat ini lagi. Ngoresan, 8 Mei 2011. Selesai pada 10.23 WIB