Bismillahirrahmanirrahim…
Saat tugas kita bertambah satu. Saat amanah kita bertambah satu. Atau sepuluh. Atau seribu. Adakah kalimat-kalimat menyiratkan keluh pernah meluncur dari bibir kita? Pernahkah hati bersungut, berkesah, memberat, saat amanah itu mampir di kehidupan kita yang singkat ini?
Ah… amanah. Kata itu seharusnya selalu bisa membuat semangat kita berkobar, membara, menggelora. Bagaimana tidak?
Allah SWT bertutur dalam kalamNya yang terjaga, “Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha”. Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Begitulah tertulis dalam Surah Al-Baqarah ayat 286.
Itulah yang Ia firmankan. Ia tahu kita bisa melakukannya, sehingga Ia amanahkan tugas itu. Ah, begitu sayangnya Ia pada kita. Ingin kita belajar. Berkembang. Bertumbuh. Agar kita menjadi laksana pohon yang akarnya menghunjam kuat dalam tanah, batangnya kokoh tak tergemingkan badai, daunnya hijau lebat merimbun, dan bebuah manis tak kenal musim. Agar kita menjadi kalifah utusanNya yang bisa memakmurkan bumiNya, memberi kemanfaatan bagi semesta. Ah, begitulah cintaNya mengalun. Begitu syahdu. Begitu merdu.
Ia ingin kita tunaikan amanah itu. Dengan sebaik-baiknya. Dengan secermat-cermatnya. Dan saat kita temui kendala demi kendala, dengarlah kalimat cintaNya dalam surah Al-Insyirah ayat 5 dan 6, “Fainnama’al ‘usriyusro, innama’al 'usriyusro”. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Ia yakinkan kita dua kali. Agar kita yakin. Agar kita percaya. Dengan izinNya, dengan kuasaNya, kerikil-kerikil tajam itu akan menyingkir. Pasti.
Saat duri merantas kaki, saat kerikil mencacah telapak, saat kita payah, saat kita lelah, saat keringat dan darah tumpah. Saat semua seakan tak tertahan dan kian membuncah. Ada satu kalimat yang begitu menggugah… “Ni’mal maulaa wa ni’mannashiir”. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Maka Dialah tempat kita mengadu, mengeluh, dalam sujud-sujud panjang kita, dalam hening sepertiga malam kita.
Lalu simak lanjutan ayatNya, masih dalam Al-Baqarah: 286. “Dia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya.” Itulah janjiNya saat kita tunaikan amanah dengan sempurna. Pahala. Hijaunya surga. Minumannya dari susu dan madu, mengalir di bawahnya sungai-sungai, bujang hilir mudik melayani, ada pula bidadari-bidadari bermata jeli. “Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah darinya”.
Tapi berhati-hatilah…
”dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya.” Saat amanah itu kita lalaikan. Dengan sengaja terutama. Atau tak kita berikan ikhtiyar terbaik kita dalam amanah itu. Padahal kita mampu. Lihatlah, siksaNya menanti. Panasnya neraka. Minumannya dari nanah dan besi mendidih, ada pula malaikat zabaniyah yang kejam bukan kepalang. “Bagi mereka ada waktu tertentu untuk mendapat siksa yang mereka tidak akan menemukan tempat berlindung dariNya”
Maka hanya doa yang terlantun dalam munajat, memohon belas kasihNya. “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya, beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmati kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami dari orang kafir.”
Ah…begitulah amanah. Sebentuk cinta indah dariNya.
#Dedicated to Bedah Buku Muslim Ilmiah SKI FK UNS 2011, next September, insyaAllah. Semoga Allah mudahkan langkah kita dalam menegakkan dienNya.


