Pages

    Rabu, 29 Juni 2011

    Amanah

    Bismillahirrahmanirrahim…

    Saat tugas kita bertambah satu. Saat amanah kita bertambah satu. Atau sepuluh. Atau seribu. Adakah kalimat-kalimat menyiratkan keluh pernah meluncur dari bibir kita? Pernahkah hati bersungut, berkesah, memberat,  saat amanah itu mampir di kehidupan kita yang singkat ini?

    Ah… amanah. Kata itu seharusnya selalu bisa membuat semangat kita berkobar, membara, menggelora. Bagaimana tidak?

    Allah SWT bertutur dalam kalamNya yang terjaga, “Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha”. Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Begitulah tertulis dalam Surah Al-Baqarah ayat 286.

    Itulah yang Ia firmankan. Ia tahu kita bisa melakukannya, sehingga Ia amanahkan tugas itu. Ah, begitu sayangnya Ia pada kita. Ingin kita belajar. Berkembang. Bertumbuh. Agar kita menjadi laksana pohon yang akarnya menghunjam kuat dalam tanah, batangnya kokoh tak tergemingkan badai, daunnya hijau lebat merimbun, dan bebuah manis tak kenal musim. Agar kita menjadi kalifah utusanNya yang bisa memakmurkan bumiNya, memberi kemanfaatan bagi semesta. Ah, begitulah cintaNya mengalun. Begitu syahdu. Begitu merdu.

    Ia ingin kita tunaikan amanah itu. Dengan sebaik-baiknya. Dengan secermat-cermatnya. Dan saat kita temui kendala demi kendala, dengarlah kalimat cintaNya dalam surah Al-Insyirah ayat 5 dan 6, “Fainnama’al ‘usriyusro, innama’al 'usriyusro”. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Ia yakinkan kita dua kali. Agar kita yakin. Agar kita percaya. Dengan izinNya, dengan kuasaNya, kerikil-kerikil tajam itu akan menyingkir. Pasti.

    Saat duri merantas kaki, saat kerikil mencacah telapak, saat kita payah, saat kita lelah, saat keringat dan darah tumpah. Saat semua seakan tak tertahan dan kian membuncah. Ada satu kalimat yang begitu menggugah…  “Ni’mal maulaa wa ni’mannashiir”. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Maka Dialah tempat kita mengadu, mengeluh, dalam sujud-sujud panjang kita, dalam hening sepertiga malam kita.

    Lalu simak lanjutan ayatNya, masih dalam Al-Baqarah: 286. “Dia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya.” Itulah janjiNya saat kita tunaikan amanah dengan sempurna. Pahala. Hijaunya surga. Minumannya dari susu dan madu, mengalir di bawahnya sungai-sungai, bujang hilir mudik melayani, ada pula bidadari-bidadari bermata jeli. “Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah darinya”.

    Tapi berhati-hatilah…

    ”dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya.”  Saat amanah itu kita lalaikan. Dengan sengaja terutama. Atau tak kita berikan ikhtiyar terbaik kita dalam amanah itu. Padahal kita mampu. Lihatlah, siksaNya menanti. Panasnya neraka. Minumannya dari nanah dan besi mendidih, ada pula malaikat zabaniyah yang kejam bukan kepalang. “Bagi mereka ada waktu tertentu untuk mendapat siksa yang mereka tidak akan menemukan tempat berlindung dariNya

    Maka hanya doa yang terlantun dalam munajat, memohon belas kasihNya. “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya, beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmati kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami dari orang kafir.”

    Ah…begitulah amanah. Sebentuk cinta indah dariNya. 

    #Dedicated to Bedah Buku Muslim Ilmiah SKI FK UNS 2011, next September, insyaAllah. Semoga Allah mudahkan langkah kita dalam menegakkan dienNya.



    Kamis, 09 Juni 2011

    Tentang 'Pencarian' yang Telah Berlalu

    "The most severe regretness is a reluctant to try. Whereas regretness that comes from refusing isn't that pain."
    Hari ini aku mendapat tugas dari mbak sekbid tersayang untuk menempel pamphlet launching jikodays. Jadilah aku berkeliling gedung F, E, dan D. Mencari-cari papan pengumuman yang sudah biasa menjadi korban pertempelan pamphlet berbagai macam acara kampus. Dan dalam masa mencari-cari itu, kutemukan papan informasi lab biomedik. Ada secarik kertas tertempel di situ. Pengumuman mahasiswa angkatan 2010 yang berhak mengikuti tes wawancara dalam rangka ‘pencarian’ asisten lab biomedik. Ada sekitar… hmmmm… 15-20 mahasiswa.
    Pikiranku melayang, mengangarungi detik demi detik yang berlalu seminggu yang lalu. Saat pendaftaran calon asisten biomedik masih dibuka. Lebar. Sangat lebar. Karena bahkan aku sedang ada di rumah, tak mengerjakan tugas kuliah apapun. Pikirku, saat di Solo akan kukerjakan esai itu, salah satu syarat administrasi untuk mendaftar dalam ‘pencarian’ langka yang digawangi oleh dokter yang sangat aku kagumi. Tapi ternyata aku tak bisa berkelit dari OSCE, dan satu lagi 'amanah' yang tak bisa ditangguhkan.
    Ah, cukup berandai-andai. Semuanya sudah berlalu. Waktu tak kan mungkin terulang, kan? Atau yang lebih ekstrim lagi, dr. *** akan membuka pendaftaran asisten lab biomedik gelombang kedua. Ah… mimpi di siang bolong pula kau ini, Nov???
    Segala yang aku impikan tentang lab itu hilang. Jas ungu. Mikropipet. PCR room. Kapan kita bisa bertemu lagi? Atau kata-kata ala lab yang paling aku sukai: ‘infeksius’. Atau kesempatan meneliti di lab biomedik, menjalankan timeline penelitian yang bertahun-tahun lalu telah disusun. Kesempatan belajar lebih banyak, kesempatan publikasi di kancah internasional…
    Semua hilang karena kemalasan, menganggap remeh sang waktu…
    Ah, satu lagi kesalahan besar telah kulakukan.
    Saat-saat seperti ini… sama seperti saat aku tak terpilih menjadi wakil SMA dalam olimpiade kimia. Atau saat aku tak terpilih menjadi pengurus OSIS SMA. Atau saau aku tak dikhitbah menjadi anggota tonti. Atau saat aku tak ikut menjadi anggota BEM fakultas. Tapi saat itu sedikit berbeda. Aku telah mencoba. Ya, setidaknya aku telah mencoba. Dan dalam penilaiannya, aku dinilai kurang. Just it. Tapi untuk kali ini, aku belum mencoba. And it’s a big deal.
    Tapi tentu tak ada guna menyesali ini semua, kan? Tak kan ada yang berubah jika aku hanya menyesali diri, berdiam dan menjauh dari realita. Pasti akan ada jalan terbuka di sana. Seperti dulu. Seperti biasanya. Ada skenario yang telah Allah rangkaikan. Yang perlu aku lakukan adalah mencari celah lain. Berusaha mencari berkas-berkas cahaya dari celah itu, membuka celah itu lebih lebar lagi, hingga nampak kembali apa yang aku cita-citakan. Ya, seperti dulu. Seperti biasanya. Ada skenario yang telah Allah rangkaikan.
    *Tapi entah kenapa aku masih benar-benar berharap ada gelombang II. Karena ini kesempatan sekali semumur hidup.


    Minggu, 05 Juni 2011

    Remnant

    Cepat!!
    Aku tak kan menunggumu
    Salah siapa memilihku?
    Matahari sudah sepenggalah
    Lantas
    Apa masih ingin kau toleh jalan itu?
    Aku tak punya waktu lagi
    Dengan kebimbanganmu
    Terutama
    Dengan aroganmu
    Masihkah ingin kau koarkan pada ilalang
    Betapa kuasa dirimu dulu
    Tapi lihatlah
    Kau kini tertatih
    Bahkan hanya sekadar bangun dari ranjang empukmu
    kau tertatih

    Aku:
    maka, tunjuki aku
    aku lupa jalan kembali

    #Dibuat pada 24 April 2011, 21:02 WIB