Pages

    Kamis, 09 Juni 2011

    Tentang 'Pencarian' yang Telah Berlalu

    "The most severe regretness is a reluctant to try. Whereas regretness that comes from refusing isn't that pain."
    Hari ini aku mendapat tugas dari mbak sekbid tersayang untuk menempel pamphlet launching jikodays. Jadilah aku berkeliling gedung F, E, dan D. Mencari-cari papan pengumuman yang sudah biasa menjadi korban pertempelan pamphlet berbagai macam acara kampus. Dan dalam masa mencari-cari itu, kutemukan papan informasi lab biomedik. Ada secarik kertas tertempel di situ. Pengumuman mahasiswa angkatan 2010 yang berhak mengikuti tes wawancara dalam rangka ‘pencarian’ asisten lab biomedik. Ada sekitar… hmmmm… 15-20 mahasiswa.
    Pikiranku melayang, mengangarungi detik demi detik yang berlalu seminggu yang lalu. Saat pendaftaran calon asisten biomedik masih dibuka. Lebar. Sangat lebar. Karena bahkan aku sedang ada di rumah, tak mengerjakan tugas kuliah apapun. Pikirku, saat di Solo akan kukerjakan esai itu, salah satu syarat administrasi untuk mendaftar dalam ‘pencarian’ langka yang digawangi oleh dokter yang sangat aku kagumi. Tapi ternyata aku tak bisa berkelit dari OSCE, dan satu lagi 'amanah' yang tak bisa ditangguhkan.
    Ah, cukup berandai-andai. Semuanya sudah berlalu. Waktu tak kan mungkin terulang, kan? Atau yang lebih ekstrim lagi, dr. *** akan membuka pendaftaran asisten lab biomedik gelombang kedua. Ah… mimpi di siang bolong pula kau ini, Nov???
    Segala yang aku impikan tentang lab itu hilang. Jas ungu. Mikropipet. PCR room. Kapan kita bisa bertemu lagi? Atau kata-kata ala lab yang paling aku sukai: ‘infeksius’. Atau kesempatan meneliti di lab biomedik, menjalankan timeline penelitian yang bertahun-tahun lalu telah disusun. Kesempatan belajar lebih banyak, kesempatan publikasi di kancah internasional…
    Semua hilang karena kemalasan, menganggap remeh sang waktu…
    Ah, satu lagi kesalahan besar telah kulakukan.
    Saat-saat seperti ini… sama seperti saat aku tak terpilih menjadi wakil SMA dalam olimpiade kimia. Atau saat aku tak terpilih menjadi pengurus OSIS SMA. Atau saau aku tak dikhitbah menjadi anggota tonti. Atau saat aku tak ikut menjadi anggota BEM fakultas. Tapi saat itu sedikit berbeda. Aku telah mencoba. Ya, setidaknya aku telah mencoba. Dan dalam penilaiannya, aku dinilai kurang. Just it. Tapi untuk kali ini, aku belum mencoba. And it’s a big deal.
    Tapi tentu tak ada guna menyesali ini semua, kan? Tak kan ada yang berubah jika aku hanya menyesali diri, berdiam dan menjauh dari realita. Pasti akan ada jalan terbuka di sana. Seperti dulu. Seperti biasanya. Ada skenario yang telah Allah rangkaikan. Yang perlu aku lakukan adalah mencari celah lain. Berusaha mencari berkas-berkas cahaya dari celah itu, membuka celah itu lebih lebar lagi, hingga nampak kembali apa yang aku cita-citakan. Ya, seperti dulu. Seperti biasanya. Ada skenario yang telah Allah rangkaikan.
    *Tapi entah kenapa aku masih benar-benar berharap ada gelombang II. Karena ini kesempatan sekali semumur hidup.


    0 komentar:

    Posting Komentar