Assalamualaikum…
Calon pasienku sayang, apa kabarmu hari ini? Semoga Allah senantiasa menjagamu dalam setiap hela nafasmu, dalam setiap detak jantungmu.
Alhamdulillah, Jumat kemarin telah rampung blok tujuh dengan tema imunologi. Telah kulaksanakan ujian blok dengan 75 soal yang sangat menguras pemikiran. Tapi pasienku sayang, jujur kukatakan, pada blok ini tak kukerahkan segala semangatku dalam menimba ilmu.
Tahukah kau pasienku sayang, slide-slide dari dosen tak kupelajari dengan baik. Aku hanya membacanya saat akan ujian blok. Astaghfirullah… maafkan dosaku, pasienku sayang. Ini memang sangat buruk. Begitu buruk. Rasa malasku ini begitu berkuasa hingga ke setiap molekul DNA dalam setiap sel-sel tubuhku, hingga tak kuasa kuhempas habis dari dalam diriku. Dan baru kusadari hal itu pada akhir blok imunologi. Saat waktu begitu sempit untuk mengulang semua materi di blok ini.
Dan tutorial pada blok imunologi, hanya kucari sumber-sumber dari laporan yang telah disusun kakak angkatan. Astaghfirullah… maafkan dosaku lagi, pasienku sayang. Seharusnya kugunakan diskusi tutorial untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Seharusnya kucari referensi terbaru, siapa tahu suatu saat nanti saat aku bertemu denganmu, bisa kugunakan metode terbaru untuk membantumu mengurangi rasa sakitmu.
Pasienku sayang, entah kenapa pada blok ini aku mulai merasa membolos kuliah adalah hal yang ringan, bukanlah hal yang perlu kukhawatirkan, karena aku berpikir, toh dosen hanya akan membaca slide yang ditampilkan. Tapi kenyatannya, seperti yang telah kukatakan padamu tadi, pasienku sayang, tak kubaca slide-slide dari dosen, kecuali sesaat sebelum ujian blok. Aku berpendapat bahwa ada hal lain yang lebih penting yang harus aku kerjakan selain mendengarkan pembacaan materi slide oleh dosen sambil mengantuk karena tak paham apa yang beliau bicarakan. Sesungguhnya hal ini terjadi karena aku tak mempelajari dulu materi kuliah. Aku terlalu mengandalkan prinsip “apa yang bisa aku terima dari orang lain”, bukan pada “apa yang bisa aku dapat sendiri”. Astagfirullah… Dan bahkan kini aku tak tahu apakah aku masih pantas dimaafkan olehmu, pasienku sayang. Aku takut kelalaianku saat ini bisa berakibat pada kecerobohanku dalam membantumu suatu saat nanti.
Pasienku sayang, berbicara tentang kecerobohan, entah kenapa aku begitu lekat dengan sifat ini. Maafkan aku, pasienku sayang… Bahkan kuhilangkan modemku yang berharga ratusan ribu. Itu berarti telah kuhilangkan pula rupiah orang tuaku yang mereka cari dengan setiap tetes peluh dan lelah mereka. Aku tak pandai menghargai jerih payah mereka, pasienku sayang. Aku berdosa. Begitu berdosa. Astagfirullah…
Dan karena hilangnya modem itu, aku tak bisa membantu kakak angkatanku dalam membuat karya tulis yang akan diikutkan dalam perlombaan tingkat fakultas, hingga akhirnya karya tulis itu tidak dikirimkan. Astagfirullah… khilafku muncul lagi. Dan lebih banyak orang yang dirugikan karena khilafku ini. Dan aku begitu kecewa, pasienku sayang. Satu lagi lomba karya tulis terlewatkan… Dan mimpi “itu” melayang..
Pasienku sayang, masih lebih banyak lagi khilaf dan dosa yang kulakukan pada blok imunologi, selama empat minggu ini. Tak terkira imbasnya, pasienku sayang. Begitu dahsyat. Begitu banyak amanah yang terbengkalai karenanya. Pasienku sayang, meski sekarang badanku begitu sakit karena musibah kecelakaan di tangga kos dan jalan raya kemarin, aku berjanji akan lebih bersemangat pada blok infeksi dan penyakit tropis yang akan dimulai esok senin. Blok ini harus kepersiapkan dengan lebih baik. Aku harus mempelajari materi kuliah sebelum dipresentasikan dosen, mengulang materi kuliah setiap hari, membuat laporan praktikum dengan kualitas yang lebih baik. Juga, aku harus mempersiapkan lomba IMSF 3rd dengan sebaik-baiknya untuk menggapai mimpiku. Go to Jember!!! \^_^/
Pasienku sayang, tolong doakan aku, agar dapat kupersiapkan bekalku untuk membantumu dengan sebai-baiknya. Sungguh, aku tak ingin menzalimimu dengan kekhilafan dan dosa-dosaku.
Tak sabar rasanya untuk segera bertemu denganmu, pasienku sayang…
*Ditulis di tengah nyeri-nyeri tubuh yang melemahkan semangat. Tapi untukmu pasienku sayang, akan kukobarkan semangat ini lagi. Ngoresan, 8 Mei 2011. Selesai pada 10.23 WIB

0 komentar:
Posting Komentar