Pages

    Selasa, 15 November 2011

    To My Sister, ISNAINI

    Assalamualaikum...
    Dik, apakah kau sudah tertidur? Ah, aku yakin kau sudah lelap dalam mimpimu.
    Tiba-tiba aku ingin menulis sesuatu untukmu. Harapanku padamu, sayang...
    Maaf jika aku berlebihan, tapi aku hanya ingin yang terbaik untukmu.

    Dik, sudah 10 tahun kita bersama. Aku ingat saat kau baru lahir. Aku menatapmu di box bayi di rumah bidan tempat Ibu melahirkanmu. Kau begitu kecil, mungil, lucu.. Ah, sekarang kau sudah besar, tinggi, lebih dari setengah tinggi badanku. Tapi ternyata kau bertambah hitam ya... hehehe... Aku senang pertumbuhanmu baik. Aku bahagia kau berkembang normal. Aku gembira kau sehat. Dulu saat kau masih play group di TKIPPA Nurul Haq, entah berapa usiamu, aku lupa, kau pernah terjatuh dari tangga di belakang rumah kita dulu di Pengasih. Kau tahu, dik, saat itu aku cemas bukan kepalang. Saat clavikula-mu patah dan kau harus dibebat perban. Anak seusiamu dengan kejadian itu, benar-benar bukan sesuatu yang menyenangkan. Atau saat kau terkena malaria sampai harus opname di rumah sakit, hingga menyebabkan berat badanmu berkurang drastis, dan bahkan untuk mencari vena-mu kau harus ditusuk berkali-kali... Masih dengan usiamu yang begitu pagi... Ah, kau kuat sekali, dik. Aku bangga...

    Kau sering berkata kau ingin seperti aku. Ingin bersekolah di SD, SMP, dan SMA yang sama. Ah, mungkin dengan universitas yang sama pula... Juga menjajal berbagai lomba menggambar, seperti aku dulu.. Dik, kau tak perlu seperti itu. Tak perlu kau dengan omongan orang tentangku. Kau adalah kau, lakukan apa yang kau inginkan, jadilah apa yang kau mau. Kau punya sesuatu yang aku tak punya, dik. Kau istimewa, sungguh istimewa. Kau dapat menggenggam dunia dengan caramu. Aku yakin! Asal kau rajin dan sungguh-sungguh berusaha, kau pasti  mempu mencapai banyak hal. Bisakah kau sedikit lunak dan mendengarkan nasihat bapak dan ibu, dik? Mereka pun ingin yang terbaik untukmu, untuk hidup dan kehidupanmu. Mungkin akhir-akhir ini mereka sibuk (bahkan sangat sibuk). Tidak seperti dulu, mereka masih bisa bermain-main dengan kita. Pula aku yang pergi ke Solo. Aku tahu kau kesepian, ruang dalam jiwamu merindukan kasih sayang yang lebih dari keluarga, karena itu yang kau butuhkan saat ini, saat kau hampir memasuki masa akil baligh. Dik, tapi kasih sayang Allah tak pernah berkurang jumlahnya untukmu. Ia selalu menjagamu. Maka jangan pernah kau tinggalkan perintahNya ya.. Begitu sayangnya Ia padamu, hingga Ia tak ingin kau jauh dariNya... Maka jadikanlah Allah dan Rasulullah yang nomor satu, dik... Afwan jika aku begitu banyak bicara, padahal aku sendiri masih berlumur dosa dan khilaf. Dik, maukah kau mengingatkanku bila aku salah? Kita saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran, ya...

    Dik, saat SD aku begitu kacau. Terlalu banyak pengaruh acara televisi yang tidak bermanfaat, hingga aku terlalu cepat menjadi "dewasa". Entah dari mana aku dapat istilah pacaran itu, hingga perasaan suka pada teman sekelas, yang malah ditanggapi dan akhirnya menjadi aneh seaneh-anehnya. Juga saat SMP dan SMA. Ah, aku parah ya...
    Dik, kau tak boleh seperti aku. Jangan lakukan kesalahan yang sama denganku. Kau nikmati saja bermain dengan teman-teman. Jangan cepat dewasa. (It's complicated when you're an adult) Masamu adalah masa yang seharusnya kau nikmati dengan gembira, bukan dengan cemburu buta pada temanmu atau memikirkan apakah si A menyukaimu atau tidak. Bukankah rasanya tidak nyaman saat terjadi hal-hal seperti itu? Bukankah itu mengganggumu? Jadilah anak-anak yang riang dan berteman dengan siapa saja. Aku tahu pengaruh teman-teman dan televisi sangat besar hingga membuatmu terjerat dalam proses "dewasa yang terlalu cepat" ini. Aku tahu ini sulit, tapi kau pasti bisa melaluinya. Ingatlah Allah dan Rasulullah adalah yang utama...

    Dik, jadilah kakak yang baik untuk Rizka. Berilah ia contoh yang baik, ya.. Aku hanya dapat menemani kalian saat libur, dengan waktu yang sangat terbatas. Maka sekarang kaulah yang bertanggungjawab besar dalam memberinya contoh. Jangan terlalu sering membuatnya menangis. Sedikit mengalah padanya tidak apa-apa, kan? Rizka masih kecil, sementara kau sudah besar, sedah lebih mengerti.

    Suatu hari nanti, jadilah istri dan ibu yang baik, sholihah, dan menentramkan hati. Ciptakan suasana nyaman dan hangat dalam rumah cintamu bersama suami dan anak-anakmu nanti.

    Kau... jadilah bidadari dunia dan surga...

    Dik Isnaini Nur Fathoni,
    Uhibbuki fillah...


    1 komentar:

    Unknown mengatakan...

    Sebagai kakak pertama, ana merasa kita berada di posisi yang sama ni ukh. Punya harapan yang sama untuk adik2 kita agar mereka jadi generasi shalih/ah dan menjadi terbaik pada zamannya. Insyaallah. Inspiring. ^^

    Posting Komentar